Pertaruhan. Itulah satu kata yang bisa menjelaskan film Thunderbolts* bagi saya. Kenapa pertaruhan? Karena sederhananya, film ini adalah pertaruhan tersendiri dalam batin milik diri. Jika mengecewakan, akan pergi. Jika memuaskan, terus tinggal. Itulah pertaruhannya.
Film MCU satu ini adalah pertaruhan tersendiri untuk memutuskan apakah harus pergi karena terus menerus dikecewakan sebelumnya atau akhirnya, film satu ini benar-benar dapat memuaskan dan tak dapat ditinggalkan.
Lalu, hasil akhir dari pertaruhan ini ialah setidaknya Marvel berhasil menyimpan satu penggemarnya.
“We can’t do this. No one here is a hero.”
Anti-Heroes Are Always Something..
Secara sederhana, Film ini berkisah tentang pertemuan berbagai antihero yang menempatkan mereka di situasi harus bekerja sama memerangi sebuah ancaman besar. Wajah-wajah tak asing lagi dalam universe MCU ini pun kembali bermunculan. Seperti Yelena Belova, Bucky Barnes, Alexei Shostakov, John Walker, Ava Starr, Taskmaster, tak luput pula si Valentina. Tapi, tentunya satu karakter baru diperkenalkan. Bob. Namanya Bob..
Salah satu yang begitu menyenangkan dari film ini adalah kekacauan yang mereka miliki. Always a pleasure. Ketika masing-masing orang di antara mereka bukanlah sebuah pahlawan ataupun orang baik sempurna, melainkan sebaliknya. Mereka penjahat, bukan pula orang baik mulia ingin menyelamatkan dunia. Namun, di situlah titik menariknya. Sesuatu yang bukan hanya berkaitan penuh kebaikan akan tetapi turut diselimuti akan sedikit kegelapan. Morally grey.
“But eventually you come to realize that there are bad guys and there are worse guys.”
Find Each Other.
Thunderbolts* tidak hanya melihatkan perkelahian memukau yang memamerkan betapa terlatihnya mereka, namun juga turut memperlihatkan perkelahian batin yang dilalui mereka. Masa lalu menghantui, menciptakan banyak penyesalan tak dapat dimanfaatkan sehingga membuat kosong jiwa dalam diri. Hampa.
Lalu, dari situlah, mereka bertemu satu sama lain. Walaupun awalnya tak mulus, seiring berjalannya waktu, mereka bisa saling mengisi kekosongan itu. Menyadari satu sama lain bahwa mereka semua sudah tak sendirian lagi.
Apakah dengan terus menerus menghadapi kematian akan membuat kita semua tak takut pada akhir segalanya yang merenggut nyawa itu? Atau jika terus menerus dihadapkan dengan rasa sakit yang menghantui akankah kita semua terbiasa dan menjadi lebih kuat?
Tidak. Kematian akan selalu disertai dengan perasaan yang menakuti. Rasa sakit pun akan terus menyiksa diri, walaupun jiwa yang dimiliki begitu kuat namun rasa sakit tetaplah rasa sakit. Selalu ada jeritan yang membuat kita semua kesakitan setengah mati ketika mengalaminya ataupun menciptakan air mata tak diundang.
Mengapa demikian? Seharusnya jika kita dihadapkan dengan satu hal yang sama secara terus menerus, bukankah semuanya lambat laun akan terbiasa? Tapi kenapa? Kenapa kematian berkali-kali yang dihadapi oleh Mickey Barnes selalu disertai ketakutan?
Jawabannya sederhana. Karena Mickey, entah itu Mickey 3 Mickey 18, ataupun Mickey 17. Mickey Barnes adalah manusia. Makhluk hidup yang punya perasaan untuk merasa, emosi untuk bersimpati, dan hati untuk mencintai.
Mickey 17 Directed by. Bong Joon-ho
“I think we use only one language ‘cinema’.”
Setelah sebelumnya sukses menggaet piala-piala Oscar melalui filmnya Parasite, Sutradara Bong Joon-Ho kini kembali menyuguhkan film terbarunya berjudul Mickey 17 yang turut menampilkan performa Robert Pattinson sebagai Mickey Barnes.
Pada intinya film ini mempunyai sinopsis cerita yang berkisah tentang Mickey Barnes seorang pria yang setuju untuk menjadi Expendable yaitu sebuah pekerjaan yang bisa membuatnya dicetak berulang kali setiap dirinya mati. Mickey setuju untuk menjadi Expendable juga tidak terjadi sesuai keinginannya. Dirinya hanya ingin kabur dari lintah darat kejam yang tengah mengejarnya. Oleh karena itulah, dia tertarik akan adanya perjalanan luar angkasa atau lebih tepatnya ke planet es bernama Niflheim. Dari sinilah perjalanannya menjadi manusia yang dikloning berkali-kali dimulai.
Antara Moral dan Genius?
“Our entire life is a punishment.”
Selama saya menatap layar kaca dan meratapi film ini, hanya ada satu pertanyaan yang terus muncul menguasai pikiran, yaitu antara moral dan genius manakah yang paling penting untuk menyelamatkan kehidupan manusia?
Apakah perlu senjata mematikan dengan teknologi canggih untuk menyerang lawan? Atau justru hanya saling mengandalkan moral yang ada, mencari jalan tengah, saling berkomunikasi hingga akhirnya sadar bahwa lawan yang dikira jahat sebenarnya hanyalah korban dari kesalahan yang dilakukan.
Di dalam film ini, lucunya adalah ‘penjahat’ yang ada bukan berasal dari creeper, sebutan untuk makhluk asing pada planet es Niflheim, melainkan dari umat manusia sendiri. Mulai dari pemimpin Kenneth Marshall yang diperankan oleh aktor Mark Ruffalo. Karakter tersebut bisa dibilang sebagai biang keroknya, karena karakter inilah yang memulai ekspedisi ke planet es Niflheim untuk tujuannya menciptakan planet dengan peradaban unggul di sana. Namun tentunya hal itu ia lakukan hanya untuk mencari perhatian dunia tentang situasi politiknya. Tidak pernah ia peduli tentang kehidupan manusia. Bagaimana bisa? Dia saja jelas-jelas melakukan eksploitasi terhadap Mickey Barnes dengan pencetakan berulang kali yang sebenarnya kontroversial. Akan tetapi, dengan kepentingan politik untuk dirinya sendiri, Kenneth Marshall menghalalkan segala cara.
“We are the aliens!”
Sekali lagi, film ini selalu membuat saya memikirkan tentang moral, moral dan moral. Karena jujur, Apa yang sebenarnya terjadi pada film panjang disutradarai oleh Bong Joon-Ho ini sangat tidak beretika. Mulai dari ekspedisi yang dilakukan tapi sebenarnya hanya demi kepentingan satu orang, ditambah juga penciptaan peradaban yang dibumbui dengan rasialis, lalu Mickey Barnes yang bisa mati berkali-kali namun terus menerus dimanfaatkan oleh kehidupan.
Dari Mickey 17, kita dapat melihat bahwa bagaimana seseorang yang berada di atas kita dapat dengan mudah mengeksploitasi jiwa di bawahnya. Hal ini sekali lagi, menyungsung tema kesenjangan sosial ataupun perbedaan kasta yang sepertinya sudah sangat melekat di dalam film Bong Joon Ho.
Be Happy.
Pada akhirnya kita semua diajarkan untuk menjadi bahagia. Layaknya karakter Mickey pada akhir film ini. Walaupun mempunyai berbagai kesalahan yang menghantui, hal itu bukan justru menjadi penghambat akan kebahagiaan diri sendiri.
Terakhir, Terkadang mungkin hidup selalu menginjak dengan brutal akan jiwa yang ada di dalam diri, namun itu bukan berarti kita harus menyerah. Mungkin saja kita hanya harus bersabar dan menerimanya, Atau jika kalian lebih berani, tak ada salahnya untuk melawan dan mendapatkan keadilan yang seharusnya kalian butuhkan.
“Orang biasa kayak gua tuh, mau mimpi aja harus tau diri ternyata.” -Kaluna.
Film ini menceritakan tentang Kaluna, si anak bungsu yang bermimpi ingin punya rumah sendiri namun dia harus menghadapi berbagai kenyataan yang pahit dan beban keluarga yang harus ia tanggung.
Film lokal yang diproduksi oleh Visinema Pictures ini, baru saja tayang perdana di seluruh Indonesia pada tanggal 26 September 2024 lalu.
Film ini juga disutradarai oleh Sabrina Rochelle Kalangie yang diadaptasi langsung dari novel best seller karya Almira Bastari.
Kesedihan yang Terasa Begitu Nyata dan Dekat
Home Sweet Loan berhasil mempotraitkan perasaan kesedihan yang terasa begitu nyata. Karakter Kaluna yang berhasil menarik berbagai empati dan simpati para penonton, membuat siapapun yang menyaksikan film ini akan mengeluarkan air mata.
Layaknya salah satu slogan dalam film ini yaitu ‘Tak ada kebahagiaan tanpa penderitaan.’ Seolah-olah memberi tau kita semua itulah yang dilalui Kaluna sepanjang film.
Penderitaan demi penderitaan terus ia hadapi dan sampai akhirnya ia berhasil memperoleh sedikit saja harapan akan kebahagiaan, lalu semua itu hancur seketika. Membuat Kaluna kembali ke jurang paling dalam dari sebuah penderitaan.
Hal ini terasa begitu nyata. Segala perasaan yang ada dalam film seakan-akan menular menembus layar kaca. Membuat kita merasakan sesuatu. Rasa sedih, rasa nostalgia, dan akhirnya sedikit percikan kebahagiaan.
“Mengalah, walau bukan aku yang salah.”
Film yang Hangat dan Arti Rumah Sesungguhnya
Film ini terasa begitu hangat seolah-olah jiwa kesedihan yang ada di dalam diri dipeluk dan menenangkan segala perasaan yang penuh resah dalam diri.
Home Sweet Loan juga seakan-akan memberi tau kita semua bahwa ‘Kita tak sendirian’ semua orang berjuang dengan keringat dan tangisannya masing-masing.
Rumah itu lebih dari sekedar bangunan. Bangunan itu mati. Harus ada yang dapat menghidupkan rumah untuk menjadi rumah yang sesungguhnya, dan jawabannya ialah keluarga kita sendiri. Merekalah yang dapat menghidupkan rumah. Walaupun terkadang kita merasa tak cocok dan tertinggal ataupun diperlakukan tidak adil dengan mereka, keluarga tetaplah keluarga.
They are always the one you come home to.
Home Sweet Home
Pada akhirnya semua orang berhak bahagia dan terkadang kita harus tau, kita semua bisa menciptakan kebahagiaan itu sendiri. Walaupun tak mudah, sepertinya kita harus bisa mencari kebahagiaan bahkan di momen yang kecil sedikitpun. Karena mungkin saja sesuatu yang kecil mempunyai makna yang lebih mendalam dari apapun.
“Makanya orang pas-pasan kayak aku gak berhak punya rumah sendiri?”
Seorang penulis film yang ingin mendapatkan gadis pujaannya.
Dengan cara, diam-diam menuliskan kisah cintanya dalam script.
Jadi ini semacam, Surat Cinta Melalui Film..
“Lo pikir, dengan bikin film, lo bisa ngerasain apa yang orang lain rasain, Gus?”
Saya kenal satu orang yang selalu saja meremehkan film Indonesia. Padahal saya sudah bilang film-film lokal sekarang lagi berkembang dengan pesat, tapi ia tetap kekeh bahwa film Indonesia akan selalu berada di situ-situ saja.
Nah, saya yakin film Jatuh Cinta Seperti di Film-film ini akan menjadi tamparan yang kuat bagi mereka yang selalu meremehkan film tanah air.
Film yang disutradarai dan ditulis oleh Yandy Laurens ini mampu membuat saya terpukau saat menyaksikannya dan berhasil membuat satu penyesalan dalam diri karena tak sempat melihat film ini di layar kaca.
Film bergenre RomCom dengan menggunakan warna hitam putih ini, berhasil berwarna dengan megah di tengah gempuran film horor di Indonesia.
Film ini mempunyai dialog yang tergolong cukup banyak, namun anehnya sama sekali tak membuat kita yang menonton akan terasa bosan atau terlalu monoton. Diaolog antar karakter benar-benar sangat berhak untuk menerima tepuk tangan yang meriah, dari segi penulisan dan segi akting para aktor yang begitu luar biasa.
“Emangnya salah yah? Kalo orang ga jatuh cinta lagi..”
Bagi saya, film yang luar biasa adalah film yang dapat membuat kita merasakan sesuatu. Baik itu perasaan bahagia, sedih, marah, takut, iri, ataupun sebuah perasaan yang tak bisa kita ungkapkan dalam kata-kata,
Dan film ini berhasil membuat saya yang menontonnya terdiam sejenak, meratapi credit film, membaca satu per satu nama orang-orang yang dibalik layar ataupun di depan layar film genius ini. Film ini benar-benar membuat saya terbeku saat setelah menontonnya karena terlalu bingung bagaimana cara mengekspresikan film ini lewat kata-kata.
Bahkan dari menulis ini saja, saya merasa belum cukup untuk mengungkapkan yang sebenar-benarnya akan betapa bagusnya sebuah karya bernama Jatuh Cinta Seperti Di Film-film.
Sungguh film yang jenius. Sebuah film yang akan berhasil membuat siapapun penontonnya jatuh cinta. Jatuh Cinta Seperti di Film-Film.
“Kenapa gak ngobrol aja sih? Maksudnya kalo misalnya dia suka, ya tinggal ngomong aja kan?”
“Dont let anyone ever make you feel like you dont deserve what you want” -Patrick, 10 Things I Hate About You.
Jika kalian adalah penggemar film genre Romantic Comedy, tak lengkap rasanya jika belum menonton film satu ini. Film ini sendiri bahkan disebut-sebut mempunyai kisah romantis legendaris pada masanya.
Rilis pada tahun 1999, sekitar 24 tahun yang lalu. Film Romantic Comedy, 10 Thing I Hate About You masih menjadi salah satu tontonan wajib bagi penggemar Film RomCom.
Apakah yang sangat spesial dalam film satu ini?
1. Sinopsis Film
Film ini bercerita tentang siswa SMA Bernama Cameron yang menyukai Siswi bernama Bianca. Namun, Bianca tak diizinkan untuk berkencan sebelum kakaknya, Kat berkencan duluan. Alhasil, Cameron malah membayar seorang remaja berandalan dan misterius di sekolahnya yang bernama, Patrick dengan tujuan untuk memikat Kat.
2. Kisah yang Ringan dan Menyenangkan
Film yang diperankan oleh Heath Ledger dan Joseph Gordonn-Levit ini mempunyai kisah yang ringan. Diiringi oleh kisah romantis antara Patrick dan Kat
“But mostly i Hate the way i dont Hate you, not even close, not even a little bit, not even at all.”
serta tentunya, Kisah romantis tipis yang menggemaskan antara Bianca dan Cameron.
He learn French for Her!
3. Salah Satu Film RomCom Terbaik
Jika bicara tentang film RomCom, tentunya kita semua tau bahwa rata-rata film Romantic Comedy yang seru ada di era 90-an dan tahun 2000 awal. Tentunya film 10 Things I Hate About You adalah salah satu dari yang terbaik.
Mustahil untuk bisa membenci film satu ini.
4. Enemy to Lovers
Kisah cinta antara Patrick dan Kat selalu seru untuk diperhatikan. Apalagi interaksi keduanya yang selalu berhasil membuat semua para penontonnya terhibur.
Bayangkan saja, seorang gadis seperti Kat, yang selalu mempunyai opini tentang apapun dalam bahasanya sendiri. Kat mempunyai kepribadian layaknya cool girl karena sosoknya yang tak mudah untuk didekati .
Sosoknya yang seperti itu harus menghadapi Patrick, seorang berandalan misterius dengan banyaknya rumor-rumor aneh tentang dirinya.
Atas suruhan atau lebih tepatnya sogokan Cameron, Patrick pun harus mendekati Kat dan dari sinilah kisah mereka bermula..
Tentunya itu sangat menarik. Apalagi jika kalian pecinta Enemy to lovers. Kisah romantis antara Kat dan Patrick yang diawali dengan saling ejek satu sama lain sampai akhirnya…
Tonton saja sendiri..
5. Film yang Tak Akan Pernah Lekang oleh Waktu
Film ini tak akan pernah mati di zaman kapanpun. Kenapa begitu?
Jawabannya sederhana.
Karena film ini bercerita tentang cinta.
Cinta tak akan pernah mati sampai kapanpun. Walaupun terdengar konyol dan aneh, tapi itu ada benarnya atau setidaknya itulah yang kita semua harapkan.Sebuah kisah cinta berliku-liku dan rumit seperti cerita Kat dan Patrick ataupula kisah cinta manis dan polos seperti Bianca & Cameron.