
Spoiler Alert!
Pertaruhan. Itulah satu kata yang bisa menjelaskan film Thunderbolts* bagi saya. Kenapa pertaruhan? Karena sederhananya, film ini adalah pertaruhan tersendiri dalam batin milik diri. Jika mengecewakan, akan pergi. Jika memuaskan, terus tinggal. Itulah pertaruhannya.
Film MCU satu ini adalah pertaruhan tersendiri untuk memutuskan apakah harus pergi karena terus menerus dikecewakan sebelumnya atau akhirnya, film satu ini benar-benar dapat memuaskan dan tak dapat ditinggalkan.
Lalu, hasil akhir dari pertaruhan ini ialah setidaknya Marvel berhasil menyimpan satu penggemarnya.
“We can’t do this. No one here is a hero.”
Anti-Heroes Are Always Something..
Secara sederhana, Film ini berkisah tentang pertemuan berbagai antihero yang menempatkan mereka di situasi harus bekerja sama memerangi sebuah ancaman besar. Wajah-wajah tak asing lagi dalam universe MCU ini pun kembali bermunculan. Seperti Yelena Belova, Bucky Barnes, Alexei Shostakov, John Walker, Ava Starr, Taskmaster, tak luput pula si Valentina. Tapi, tentunya satu karakter baru diperkenalkan. Bob. Namanya Bob..

Salah satu yang begitu menyenangkan dari film ini adalah kekacauan yang mereka miliki. Always a pleasure. Ketika masing-masing orang di antara mereka bukanlah sebuah pahlawan ataupun orang baik sempurna, melainkan sebaliknya. Mereka penjahat, bukan pula orang baik mulia ingin menyelamatkan dunia. Namun, di situlah titik menariknya. Sesuatu yang bukan hanya berkaitan penuh kebaikan akan tetapi turut diselimuti akan sedikit kegelapan. Morally grey.
“But eventually you come to realize that there are bad guys and there are worse guys.”
Find Each Other.
Thunderbolts* tidak hanya melihatkan perkelahian memukau yang memamerkan betapa terlatihnya mereka, namun juga turut memperlihatkan perkelahian batin yang dilalui mereka. Masa lalu menghantui, menciptakan banyak penyesalan tak dapat dimanfaatkan sehingga membuat kosong jiwa dalam diri. Hampa.
Lalu, dari situlah, mereka bertemu satu sama lain. Walaupun awalnya tak mulus, seiring berjalannya waktu, mereka bisa saling mengisi kekosongan itu. Menyadari satu sama lain bahwa mereka semua sudah tak sendirian lagi.

“We own you now.”