
Spoiler Alert!
Apakah dengan terus menerus menghadapi kematian akan membuat kita semua tak takut pada akhir segalanya yang merenggut nyawa itu? Atau jika terus menerus dihadapkan dengan rasa sakit yang menghantui akankah kita semua terbiasa dan menjadi lebih kuat?
Tidak. Kematian akan selalu disertai dengan perasaan yang menakuti. Rasa sakit pun akan terus menyiksa diri, walaupun jiwa yang dimiliki begitu kuat namun rasa sakit tetaplah rasa sakit. Selalu ada jeritan yang membuat kita semua kesakitan setengah mati ketika mengalaminya ataupun menciptakan air mata tak diundang.
Mengapa demikian? Seharusnya jika kita dihadapkan dengan satu hal yang sama secara terus menerus, bukankah semuanya lambat laun akan terbiasa? Tapi kenapa? Kenapa kematian berkali-kali yang dihadapi oleh Mickey Barnes selalu disertai ketakutan?
Jawabannya sederhana. Karena Mickey, entah itu Mickey 3 Mickey 18, ataupun Mickey 17. Mickey Barnes adalah manusia. Makhluk hidup yang punya perasaan untuk merasa, emosi untuk bersimpati, dan hati untuk mencintai.
Mickey 17 Directed by. Bong Joon-ho

Setelah sebelumnya sukses menggaet piala-piala Oscar melalui filmnya Parasite, Sutradara Bong Joon-Ho kini kembali menyuguhkan film terbarunya berjudul Mickey 17 yang turut menampilkan performa Robert Pattinson sebagai Mickey Barnes.
Pada intinya film ini mempunyai sinopsis cerita yang berkisah tentang Mickey Barnes seorang pria yang setuju untuk menjadi Expendable yaitu sebuah pekerjaan yang bisa membuatnya dicetak berulang kali setiap dirinya mati. Mickey setuju untuk menjadi Expendable juga tidak terjadi sesuai keinginannya. Dirinya hanya ingin kabur dari lintah darat kejam yang tengah mengejarnya. Oleh karena itulah, dia tertarik akan adanya perjalanan luar angkasa atau lebih tepatnya ke planet es bernama Niflheim. Dari sinilah perjalanannya menjadi manusia yang dikloning berkali-kali dimulai.
Antara Moral dan Genius?

Selama saya menatap layar kaca dan meratapi film ini, hanya ada satu pertanyaan yang terus muncul menguasai pikiran, yaitu antara moral dan genius manakah yang paling penting untuk menyelamatkan kehidupan manusia?
Apakah perlu senjata mematikan dengan teknologi canggih untuk menyerang lawan? Atau justru hanya saling mengandalkan moral yang ada, mencari jalan tengah, saling berkomunikasi hingga akhirnya sadar bahwa lawan yang dikira jahat sebenarnya hanyalah korban dari kesalahan yang dilakukan.
Di dalam film ini, lucunya adalah ‘penjahat’ yang ada bukan berasal dari creeper, sebutan untuk makhluk asing pada planet es Niflheim, melainkan dari umat manusia sendiri. Mulai dari pemimpin Kenneth Marshall yang diperankan oleh aktor Mark Ruffalo. Karakter tersebut bisa dibilang sebagai biang keroknya, karena karakter inilah yang memulai ekspedisi ke planet es Niflheim untuk tujuannya menciptakan planet dengan peradaban unggul di sana. Namun tentunya hal itu ia lakukan hanya untuk mencari perhatian dunia tentang situasi politiknya. Tidak pernah ia peduli tentang kehidupan manusia. Bagaimana bisa? Dia saja jelas-jelas melakukan eksploitasi terhadap Mickey Barnes dengan pencetakan berulang kali yang sebenarnya kontroversial. Akan tetapi, dengan kepentingan politik untuk dirinya sendiri, Kenneth Marshall menghalalkan segala cara.

Sekali lagi, film ini selalu membuat saya memikirkan tentang moral, moral dan moral. Karena jujur, Apa yang sebenarnya terjadi pada film panjang disutradarai oleh Bong Joon-Ho ini sangat tidak beretika. Mulai dari ekspedisi yang dilakukan tapi sebenarnya hanya demi kepentingan satu orang, ditambah juga penciptaan peradaban yang dibumbui dengan rasialis, lalu Mickey Barnes yang bisa mati berkali-kali namun terus menerus dimanfaatkan oleh kehidupan.
Dari Mickey 17, kita dapat melihat bahwa bagaimana seseorang yang berada di atas kita dapat dengan mudah mengeksploitasi jiwa di bawahnya. Hal ini sekali lagi, menyungsung tema kesenjangan sosial ataupun perbedaan kasta yang sepertinya sudah sangat melekat di dalam film Bong Joon Ho.
Be Happy.

Pada akhirnya kita semua diajarkan untuk menjadi bahagia. Layaknya karakter Mickey pada akhir film ini. Walaupun mempunyai berbagai kesalahan yang menghantui, hal itu bukan justru menjadi penghambat akan kebahagiaan diri sendiri.
Terakhir, Terkadang mungkin hidup selalu menginjak dengan brutal akan jiwa yang ada di dalam diri, namun itu bukan berarti kita harus menyerah. Mungkin saja kita hanya harus bersabar dan menerimanya, Atau jika kalian lebih berani, tak ada salahnya untuk melawan dan mendapatkan keadilan yang seharusnya kalian butuhkan.

“My great gift to mankind.”
-Mickey Barnes-