
-Kaluna.
Film ini menceritakan tentang Kaluna, si anak bungsu yang bermimpi ingin punya rumah sendiri namun dia harus menghadapi berbagai kenyataan yang pahit dan beban keluarga yang harus ia tanggung.
Film lokal yang diproduksi oleh Visinema Pictures ini, baru saja tayang perdana di seluruh Indonesia pada tanggal 26 September 2024 lalu.
Film ini juga disutradarai oleh Sabrina Rochelle Kalangie yang diadaptasi langsung dari novel best seller karya Almira Bastari.

Kesedihan yang Terasa Begitu Nyata dan Dekat
Home Sweet Loan berhasil mempotraitkan perasaan kesedihan yang terasa begitu nyata. Karakter Kaluna yang berhasil menarik berbagai empati dan simpati para penonton, membuat siapapun yang menyaksikan film ini akan mengeluarkan air mata.
Layaknya salah satu slogan dalam film ini yaitu ‘Tak ada kebahagiaan tanpa penderitaan.’ Seolah-olah memberi tau kita semua itulah yang dilalui Kaluna sepanjang film.
Penderitaan demi penderitaan terus ia hadapi dan sampai akhirnya ia berhasil memperoleh sedikit saja harapan akan kebahagiaan, lalu semua itu hancur seketika. Membuat Kaluna kembali ke jurang paling dalam dari sebuah penderitaan.
Hal ini terasa begitu nyata. Segala perasaan yang ada dalam film seakan-akan menular menembus layar kaca. Membuat kita merasakan sesuatu. Rasa sedih, rasa nostalgia, dan akhirnya sedikit percikan kebahagiaan.

“Mengalah, walau bukan aku yang salah.”
Film yang Hangat dan Arti Rumah Sesungguhnya
Film ini terasa begitu hangat seolah-olah jiwa kesedihan yang ada di dalam diri dipeluk dan menenangkan segala perasaan yang penuh resah dalam diri.
Home Sweet Loan juga seakan-akan memberi tau kita semua bahwa ‘Kita tak sendirian’ semua orang berjuang dengan keringat dan tangisannya masing-masing.

Rumah itu lebih dari sekedar bangunan. Bangunan itu mati. Harus ada yang dapat menghidupkan rumah untuk menjadi rumah yang sesungguhnya, dan jawabannya ialah keluarga kita sendiri. Merekalah yang dapat menghidupkan rumah. Walaupun terkadang kita merasa tak cocok dan tertinggal ataupun diperlakukan tidak adil dengan mereka, keluarga tetaplah keluarga.
They are always the one you come home to.
Home Sweet Home
Pada akhirnya semua orang berhak bahagia dan terkadang kita harus tau, kita semua bisa menciptakan kebahagiaan itu sendiri. Walaupun tak mudah, sepertinya kita harus bisa mencari kebahagiaan bahkan di momen yang kecil sedikitpun. Karena mungkin saja sesuatu yang kecil mempunyai makna yang lebih mendalam dari apapun.

“Makanya orang pas-pasan kayak aku gak berhak punya rumah sendiri?”